Minggu, 07 Desember 2008

REAKTUALISASI PROFIL SEORANG GURU IDEAL IBARAT ARTIS IDOLA

Profil seorang guru ideal adalah ibarat artis terkenal yang sangat digandrungi dan dinantikan kedatangannya oleh penggemarnya yaitu siswa, karena sang artis dapat memberikan pelayanan menarik kepada funnya saat kegiatan pembelajaran berlangsung, dengan keprofesionalannya artis pun mempunyai banyak ide cemerlang dalam penyajian materi.
Oleh: Anik Rofaida Lestari, SPd.MPd
SMPN I Takeran Magetan

Di suatu daerah yang dijadwalkan akan kedatangan sebuah group band terkenal di negeri itu, dapat dipastikan masyarakatnya akan sangat antusias mengadakan penyambutan. Jika yang datang adalah group band idola anak muda maka para remaja dan ABG kota itu sudah kasak kusuk menunggu idolanya. Mereka menunggu dengan penuh kerinduan seolah akan bertemu pujaan hati yang lama dinantikan. Semakin dekat pertemuan makin berdebar, mereka sibuk dengan segala rencana yang akan dilakukan jika bertemu sang pujaan, mulai berjabat tangan, minta foto bersama, tanda tangan sampai dengan peluk cium penuh kecintaan. Mereka rela bersusah payah untuk pertemuan tersebut, loket yang masih tutup terkadang mereka tunggu, antrian panjang dan terik matahari tak dihiraukan bahkan tiket dengan harga selangit dari calo pun diterjang demi kecintaannya pada sang idola. Begitu band pujaan naik panggung, segala rasa tumplek jadi satu, senang, bangga, antusias, berteriak, ikut menyanyi, menari, jingkrak-jingkrak seperti yang dilakukan artis idolanya. Suasana benar – benar menghipnotis, waktu beberapa jam pun tak terasa, dan rasa capek terkalahkan. Jika sudah habis masa pertemuannya mereka begitu kecewa, terharu, berat hati melepas kepergiannya seolah mau ditinggal mati saja.
Itulah gambaran para penggemar terhadap sang artis idola, permasalannya adalah bagaimana jika kondisi seperti itu dapat kita usung dalam dunia pendidikan, dimana guru sebagai sang artis idola dan para siswa adalah penggemarnya. Karena menurut Suryaningsih (2006) pada dasarnya guru adalah sumber daya potensial yang sarat nilai moral dalam melakukan transpormasi ilmu pengetahuan kepada murid – muridnya. Dalam angkatan bersenjata faktor ini disebut “ the man behind the gun.”. Orang – orang militer berpendapat bahwa bukan senjata yag memenangkan perang, tetapi serdadu yang memegang senjata itu. Serdadu tidak akan memenangkan suatu pertempuran apabila tidak menguasai strategi perang.
Guru dituntut memiliki kualitas ketika menyajikan bahan pengajaran kepada subyek didik. Kualitas seorang guru itu dapat diukur dari moralitas, bijaksana, sabar dan menguasai bahan pelajaran ketika beradaptasi dengan subyek didik. Sejumlah faktor itu membuat dirinya mampu menghadapi masalah-masalah sulit, tidak mudah putus asa, frustasi, depresi atau stress secara positif atau konstruktif, dan tidak destruktif.
Ukuran ideal seorang guru tergantung pada kemampuan dan pengalaman intelektualitasnya. Guru harus memiliki “ skill labour ” yaitu tenaga terdidik atau terlatih dengan kebiasaan-kebiasaan baik, sehingga mampu menyesuaikan diri dengan subyek didik. Guru merupakan figur dalam penyuksesan pendidikan bagi anak didik. Tidak cukup hanya itu saja, bahkan guru dituntut harus memiliki akhlak yang baik. .(Ana Poejiati : 1987)
Muhammad ‘ Abd al – Qadir Ahmad menuturkan “ Banyak siswa yang membenci suatu ilmu atau materi pelajaran karena watak guru yang keras, akhlaq guru yang kasar dan cara mengajar yang sulit. Di pihak lain banyak pula siswa yang menyukai dan tertarik untuk mempelajari suatu ilmu atau suatu materi pelajaran, karena cara perlakuan yang baik, kelembutan dan keteladanan yang indah. Menurut Edy Siswanto ( 2003 ) bahwasannya guru bukan majikan tetapi guru adalah pelayan siswa. Jika kita para guru mendapatkan amanat dari siswa maka kita harus berusaha melayani dengan baik, berusaha menyenangkan, bukan malah minta diperhatikan apalagi mempersulit siswa.
Sosok seorang guru ideal ibarat artis idola yang kedatangannya selalu dirindukan, siswa akan berusaha bahkan rela bersusah payah demi keinginan bertemu dengan guru idolanya. Jadwal pertemuannya masih hari esoknya namun sekarang mereka sudah menyiapkan dan memimpikan kehadirannya. Mereka juga berharap saat pertemuannya guru akan memberikan suatu kesan dan pengalaman bermakna dalam kehidupan mereka melalui kegiatan pembelajaran yang diberikan. Karena menurut Ausubel (1968)“The most important single faktor influencing learning is what the learner alredy knows. Ascertain this and teach him accordingly“. Jadi, agar terjadi belajar bermakna, konsep baru atau informasi baru harus dikaitkan dengan konsep yang telah ada dalam struktur kognitif siswa. Dalam hal ini guru dituntut kreatif mencari ide untuk mengaitkan informasi baru yang akan disampaikan dengan konsep yang telah dimiliki siswa secara menarik, menyenangkan bahkan kalau bisa membuat penasaran dan menantang. Sehingga waktu kegiatan pembelajaran mereka sangat tidak berasa bahkan kurang, karena keprofesionalan sang guru mengelola dengan menyajikan berbagai macam metode yang menarik, jika bel tanda akhir pertemuan berbunyi mereka akan mengeluh atau mengerutu karena pertemuannya dengan sang idola belum terpuaskan. Bahkan mereka pun akan berusaha menemui diluar jatah atau jam pelajarannnya, sekedar untuk curhat, menanyakan beberapa hal, atau sekedar cerita-cerita yang membuat mereka dan gurunya tertawa-tawa. Banyak pengalaman yang penulis rasakan dalam perjalanan menjadi guru. Mulai anak yang punya jadwal membolos karena begitu anti patinya pada gurunya, sampai dengan anak yang setiap istirahat berkumpul patungan untuk membelikan jajan, atau merengek ibunya minta bekal yang unik agar gurunya tidak ke ruang guru tetapi berada di kelasnya makan bersama mereka, bercengkerama, bercanda sampai tertawa-tawa dan merajuk, karena guru itu terbiasa melakukan hal tersebut.
Dalam UU no 14/2005 mengenai 4 syarat kompetensi guru, serta rumusan dari komisi khusus ditjend Dikti tentang sosok utuh guru profesional. Di sana tertera yakni guru profesional itu: (1) memahami peserta didik, (2) memiliki kemampuan pembelajaran yang mendidik, (3) menguasai bidang studi, dan (4) mampu mengembangkan kemapuan profesionalnya secara berlenajutan. Persoalannya adalah sudahkan kita memilikihal-hal tersebut? Maka menjadi PR kita bersama bahwa menjadi guru adalah adanya kewajiban untuk selalu meningkatkan mutu diri kita secara berkelanjutan menuju pada sosok guru yang diidealkan oleh semua pihak: siswa, teman sesama, orang tua siswa, masyarakat, dan pemerintah. (Arif .KP.: 2006)
Guru merupakan profesi, yaitu pekerjaan yang menuntut keahlian. Artinya, pekerjaan sebagai guru tidak bisa dilakukan oleh orang yang tidak terlatih dan tidak disiapkan. Kegiatan pendidikan dan pembelajaran di sekolah terhadap peserta didik tidak bisa dilakukan sembarang orang, karena untuk melakukan tersebut dituntut keahlian atau kompetensi sebagai guru.
Sebagai profesi, guru harus dapat merebut kepercayaan publik melalui peningkatan kualitas guru dan pelayanan pendidikan dan pembelajaran. Kepercayaan menjadi faktor kunci dalam mengokohkan identitas guru. Seiring dengan upaya tersebut, sebagai profesi guru harus selalu melakukan profesionalisasi yaitu meningkatkan dirinya dan pelayanannya sesuai dengan tuntutan zaman.(Mungin Eddy.W : 2005)
Sungguh akan luar biasa sistem pendidikan di negeri ini, jika hal hal tersebut diatas benar-benar dapat diaktualisasikan . Sudah dapat dipastikan akan tercetak generasi-generasi kebanggaan penuh harapan. Betapa nikmat dan berharganya profil seorang guru ideal, hidup kan sangat berarti, hari-hari khan dipenuhi rasa ingin segera bertemu siswanya untuk mentransfer ilmu yang bermanfaat sebanyak banyaknya, saat kematian akan tersenyum sungging penuh keikhlasan, dan di alam barzah akan terasa sejuk semilir angin spoi manakala ilmu yang bermanfaat di terapkan oleh generasinya bahkan do’a dari siswa selalu terkirim setiap saat karena mereka teringat gurunya setiap kali menerapkan ilmunya. Mungkinkah hal itu terjadi ? Wallohu a’lam bissawab.


REFERENSI

- Edy siswanto, Guru bukan majikan tetapi sebagai pelayan siswa
Media No 06/Th.XXXII/Agustus 2003
- Ratna wilis dahar, Teori-teori belajar
Erlangga 1989
- Arif.kp.Tanggapan Tentang Guru Ideal
http://klinikpembelajaran.com/kp2007/2006/12/04/guru-ideal/#comment-474
- Mungin Eddy Wibowo, Peran Guru Dalam Pasar Bebas
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/1005/03/1104.htm
- Ana Peojiati, Sejarah dan Filsafat Sains
Depdikbud, Dirjen Pendidikan tinggi
Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan.1987
- Suryaningsih,Alqur’an, Ilmu Dan Filsafat Manusia
www.surya.co.id.
- Harun Yahya, Penciptaan Alam Semesta
Info @ harun yahya.com.

KONSTRIBUSI GURU SAINS IDEAL DALAM UPAYA PENYELAMATAN BUMI

Seorang guru sains ideal mempunyai konstribusi yang tidak sedikit dalam upaya penyelamatan bumi dari segala bentuk kekacauan karena bentuk implementasi ilmu-ilmu sains oleh manusia tanpa peradapan. Melalui penanaman moral dan akhlaq yang luhur saat pentransferan ilmu sains pada peserta didik dapat menghambat nafsu serakah manusia dalam penerapan sains dan teknologi.

Oleh: ANIK ROFAIDA LESTARI, SPd.MPd
SMPN I TAKERAN MAGETAN

Detik-detik sekarang ini dikenal dengan masa runtuhnya berbagai wacana besar. Modernisme sebagai wujud isme krisis kemanusiaan akibat ancaman nuklir, AIDS atau kerusakan sistem sosial yang terus berkembang kepada kekacauan sistem yang telah membuktikan keberhasilannya menjadi penguasa jaman, saat ini terus mengalami goncangan hebat semenjak kritik pedas dari berbagai kalangan akibat efek samping yang mengerikan sehingga terjadinya kerusakan lingkungan.
Di tangan Descartes dan para pengikutnya Fisika yang menjadi Geometris menjelma sebagai bentuk ideologi besar modernisme. Alam di dalam tafsir ala Descartes merupakan sebuah alam yang ‘lansung jadi’ dan tidak memiliki perubahan. Sistemnya tetap,begitu juga elemen pembentuk alam.
Setelah konsepsi Descartes mempengaruhi segala macam kehidupan, termasuk tatanan sosial di tengan Bacon dan Comte, kemudian alam fikiran modern mengenal seorang Lamarck dan Darwin dengan teori evolusinya di bidang Biologi . Walaupun keduanya sejatinya berbeda dalam memaknai proses evolusi, namun konsep evolusi ini merupakan sebuah revisi terhadap konsep ala Descartes yang menganggap alam sebagai sebuah sistem yang tetap. Ternyata ide Darwin ini kemudian mendapat dukungan dari generasai berikutnya, yang kemudian abad modern mengenal Karl Marx yang dikenal sebagai seorang Darwinian Sosial yang menganggap bahwa preses pergantian sosialpun memerlukan seleksi alam, bahkan dihalalkan adanya konflik untuk keluar sebagai pemenang dalam proses seleksi alam.
Melihat proses kelahiran modernisme di atas, bisa dikatakan peran Sains ( atau lebih tepatnya Natural Science) dalam menentukan arah peradaban cukup besar. Dimana para Saintis yang memiliki kompetensi filosofis tersebut ternyata terbukti bisa menggiring sejarah ummat manusia. Begitu juga peran teknologi, dimana ketika Sains memiliki peran besar dalam proses pembentukan wacana besar yang menjadi fondasi ‘kebenaran’, teknologi sebagai bentuk aplikasi Sains memiliki peran besar dalam realitas sosial. Pendek kata, Sains bisa bermain di ‘langit’ dan teknologi bisa bermain di ‘bumi’.(Arifnur :2007).
Menurut Fritjof Capra penentu arah peradaban sebagai berikut:
Budaya runtuh karena kehilangan fleksibilitas. Pada waktu struktur sosial dan pola perilaku telah menjadi kaku sedangkan masyarakat tidak lagi mampu menyesuaikan diri dengan situasi yang berubah, peradaban itu tidak akan mampu melanjutkan proses kreatif evolusi budayanya. Dia akan hancur dan secara berangsur mengalami disintegrasi.
Dari permasalahan diatas terbukti, pengaruh dominan sainstis dan teknologi ternyata masih sangat dominan untuk menentukan masa depan ummat manusia.Lalu seberapa besar konstribusi seorang guru sains ideal dalam permasalan tersebut?
Filsafat dan ilmu adalah dua kata yang saling terkait, baik secara substansial maupun historis karena kelahiran ilmu yang tidak lepas dari peranan filsafat. Sebaliknya perkembangan ilmu memperkuat keberadaan filsafat. Filsafat telah berhasil mengubah pola pemikiran umat manusia dari pandangan mitosentris menjadi logosentris. Perubahan pola pikir tersebut membawa implikasi yang tidak kecil. Alam dengan segala gejalanya, yang selama ini ditakuti kemudian didekati dan bahkan dieksploitasi. Perubahan yang mendasar adalah ditemukannya hukum-hukum alam dan teori ilmiah yang menjelaskan perubahan yang terjadi, baik dialam jagad raya (makrokosmos) maupun alam manusia (mikrokosmos).
Pada perkembangan selanjutnya ilmu terbagi dalam beberapa disiplin, yang membutuhkan pendekatan, subyek, tujuan dan ukuran yang berbeda antara disiplin ilmu yang satu dengan yang lainnya. Pada pergilirannya, cabang ilmu semakin subur dengan segala variasinya, namun ilmu yang terspesialisasi itu semakin menambah sekat-sekat antara satu dengan yang lainnya. Tidak hanya sekedar sekat antar disiplin dan arogansi ilmu, tetapi yang terjadi adalah terpisahnya ilmuitu dengan nilai luhur ilmu, yaitu untuk menyejahterakan umat manusia. Bahkan tidak mustahil terjadi ilmu menjadi bencana bagi kehidupan umat manusia, seperti pemanasan global dan dehumanisasi.(Dr.Amsal Bakhtiar).
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa satu sisi ilmu berkembang dengan pesat, disisi lain timbul kekhawatiran yang sangat besar terhadap perkembangan ilmu itu karena tidak seorang pun atau lembaga mana pun yang memiliki otoritas untuk menghambat implikasi negatif dari ilmu. Kemajuan yang dicapai eropa di bidang industri dan ilmu pengetahuan sejak renaisance, menghantarkan masyarakat untuk lebih jauh menolak kekuasaan agama secara total yang mengakibatkan pula kekaguman yang berlebihan kepada otoritas sains yang terlepas dari nilai-nilai spiritual keagamaan, dan yang pada akhirnya mencapai puncaknya pada peristiwa pemboman Hiroshima dan Nagasaki pada waktu perang Dunia II ( Suryaningsih ).
Di Indonesia sendiri pada waktu terakhir ini menunjukkan kejanggalan pada fenomena-fenomena alam dimana ilmu pengetahuan manusia belum mampu untuk menganalisa apalagi mengupas bahkan membedahnya. Diantaranya adalah, keluarnya lumpur panas yang entah sampai kapan akan terhenti dan apa yang akan terjadi selanjutnya jika terhenti, tenggelamnya kapal dan hilangnya pesawat yang tanpa meninggalkan bekas apapun bahkan secuil tulang dari ratusan penumpang yang dibawanya, gelombang tsunami yang datang seketika tanpa terdeteksi dan meluluh lantakkan bumi serambi mekah dan sekitarnya .
Di lain sisi implementasi dari ilmu-ilmu sains teknologi yang sadis dan terkadang jauh dari norma pun terjadi, penangkapan hiu yang hanya disayat siripnya kemudian dilepaskan lagi, eksploitasi hutan dengan kalap mata , adu binatang dengan membuat pesakitan agar melakukan yang dimaui manusia, pembangunan tanpa batas yang akhirnya menutup daerah-daerah resapan air, dan masih banyak lagi. Akibatnya adalah berbagai bencana menimpa. Longsor yang mengubur segalanya, banjir yang merendam manusia tanpa mengenal batas usia, parahnya lagi hilangnya beberapa spesies yang hanya tinggal cerita.
Realita di atas adalah tantangan bagi seorang guru sains ideal dalam mentransfer ilmu-ilmu sains. Hendaknya barengilah dengan penanaman akhlak dan moral dalam pentransferan ilmu tersebut. Kurangi kekaguman yang berlebihan pada siswa akan dahsyatnya produk-produk sains dan teknologi yang mana akan menimbulkan ambisi dan keserakahan pada jiwa mereka. Tunjukkan akibat atau sisi negatif yang timbul jika penerapannya tanpa norma. Tanamkan pada jiwa mereka bahwa ilmu dunia hanyalah sebagai pembuktian akan keEsaan dan keMaha Kuasaan Tuhan. Dengan harapan mereka kelak dalam penerapannya masih memperhitungkan kaidah norma, peduli dengan sesama mencintai alam dengan sepenuhnya sebagai bukti kehambaan seorang insan kepada Sang Maha Pencipta. Sekali lagi bahwa para saintis dan teknolog akan tetap menjadi penentu arah peradapan. Ingatlah bahwa tidak diciptakannya jin dan manusia kecuali untuk menyembah kepada Alloh, bukan untuk membuat kerusakan dan pembinasaan. Harapan kita semoga Alloh memunculkan guru-guru sains ideal yang akan membentuk jiwa-jiwa santis dan teknolog yang cerdas namun penuh rasa cinta terhadap bumi yang mereka tempati, dan peduli terhadap sesama makhluk. Amin.

Referensi

- Arifnur, Peranan Sains dan Teknologi Dalam Penentuan Bentuk Peradaban
Baru.
http://oarep.wordpress.com/2007/08/04/peranan-sains-dan-teknologi-dalam-penentuan-bentuk-peradaban-baru/

- Suryaningsih,Alqur’an, Ilmu Dan Filsafat Manusia
www.surya.co.id

GURU IDEAL PEMBIMBINGKU

Biodata
NAMA: FERRY DIAH EKAWATI
TTL:11-02-1992
SEKOLAH: SMPN 1 TAKERAN
ALAMAT: Ds. WADUK

Guru ideal”Guru yang mengajar dengan sistim menyenangkan dan bisa meangaktifkan siswa”. Menurut siswa guru idial guru yang mendorong dan menguasai apa yang di inginkan oleh siswa,diantaranya cara mengajar, memberi kultum setiap masuk kelas, menyenangkan hati siswa.
Sekarang guru yang ideal harus mumiliki banyak ilmu, pendidikan yang tinggi, minimal S1(Sarjana) kalau bisa (Drs/Dra).Guru yang berpendidikan pasti bisa menguasai ilmu yang akan di tularkan kepada anak didiknya. Utamanya guru bisa menyenang kan hati, mengaktifkan siswa, agar anak didiknya merasa nyaman selama berada di sekolah.
Seorang guru haru memiliki banyak ilmu dan wawasan untuk mendidik anak-anaknya. Minimal menguasai ilmu untuk membantu/ mendorong anak didiknya meraih nilai yang baik (berprestasi). Untuk menjadi guru harus bisa memperjuangkan anak didiknya ke masa depan yang cerah.
Guru ideal memiliki cara / trik pembelajaran tersendiri untuk menyenangkan anak didiknya biar tidak jenuh, bisa juga dengan tebak- tebakan (kuis) Untuk menetes IQ anak didik dengan serius tapi santai bisa juga denan teknik- teknik yang lain yang bisa membuat anak-anak semangat dalam belajar.
Guru juga berperan sebagai orang tua untuk anak didiknya di sekolah, dan penuntun anak didiknya bisa belajar aktif, Guru salah satu contoh siswa karena guru membimbing anak didiknya dengan ihlas dan guru bisa meluangkan waktu untuk mendidik, guru tidak kenal lelah membanting tulang untuk anak didiknya untuk berprestasi. Guru harus bisa mengontrol sikap ndan tingkah laku disaat berada di sekeliling anak didiknya karena tinkah laku dan aktifitas guru di contoh anak didiknya.
“Teacher is the best” and hero without sign service.



Biodata
NAMA: FERRY DIAH EKAWATI
TTL:11-02-1992
SEKOLAH: SMPN 1 TAKERAN
ALAMAT: Ds. WADUK

Kamis, 04 Desember 2008

GARDENING

KAKTUS ( CACTUS)
ADALAH: Tanaman berduri

Keunggulan kaktus :
a. Penambah semarak ruangan
b. Penambah asri taman
c. Penyegar acara ditempat berbimtang
d. Peluang bisnis

Karakteristik kaktus
• Berbatabg tunggal, dan jarang bercabang, berbentuk papak, silinder
• Tinggi bias mencapai 15 m
• Jenis kaktus yang popular
- kaktus totol
- kaktus sinterklas
- kaktus peniti
- kaktus spiral
- kaktus uban
- kaktus pagoda
• Bunga kaktus bermahkota berbentuk pipa, warna dan bentuk beraneka ragam :
Kuning, merah, jingga, ungu dll. Bentuk bunga bias oval/ bulat.


Perawatan Kaktus
1. Taruh pada rungan yang sesuai dengan syarat hidupnya, missal cukup cahaya.
2. Penyiraman tidak terlalu sering,
3. Musim kering penyiraman antara 2-3 kali seminggu
4. Media yang terlalu basah tidak usah disiram, bias busuk.

Manfaat Kaktus
1. Bahan sayur
2. Bahan makanan karena buahnya bergizi, bias dibuat sale ( contoh Opuntia megacantha ).
3. Membasmi kutu pengganggu tanaman kopi dan coklat (opuntia elatipr)

Cara pengembang biakan Kaktus
1. Biji dan stek
2. Lahan yg digunakan cukup lahan kering
3. menyiapkan media

Kaktus yang ditanam pada pot kecil tidak tumbuh akar yang panjang karena kebutuhan air sudah disediakan lewat penyiraman.

Memperbanyak kaktus dengan penyambungan ( Grafting)


Media Tanam
Mrp. Komponen utama ketika akan bercocok tanam. Media yang akan digunakan hrs sesuai dg jenis tanaman yg akan di tanam.
Jenis media tanam yg digunakan atar daerah tidak sama.

A. Bahan Organik
Berasal dari komponen organisme hidup. Bahan organic aakan mengalami proses pelapukan atau dekomposisi yg dilakukan oleh mikroorganisme. Proses ini akan dihasilkan karbondioksida (CO2), air(H2O) dan mineral.
Contoh: arang, batang pakis, pupuk kandang, sabut kelapa, sekampadi.

PENGARUH HP PADA SISWA

Karya : Nur Puji Rahayu
Klas : 7A

Banyak orang tua sekarang yang membawa HP. Bahkan anak – anak kecil pun juga membawa. Ada pengaruh positif dan negative . Pengaruh negative bagi anak – anak sekolah antara lain :pada waktu ulangan siswa menyontek lewat HP. Ada yang untuk menyimpan gambar – gambar porno. Karena HP banyak siswa yang meninggalkan belajar. Mereka hanya bermain dan bermain HP. Kalau ada waktu luang mereka bermain Hp.
Banyak orang tua yang bingung kepada mereka . Karena anak – anak meminta HP kepada orang tua. Bahkan ada yang mengancam tidak akan sekolah lagi. Jadi para orang tua pasrah. Karena para orang tua tidak dapat melarang mereka. Para orang tua membelikan apa yang mereka minta.

Rabu, 26 November 2008

SEKOLAH BERNUANSA PONDOK DALAM RANGKA MENINGKATKAN PERILAKU ISLAMI SERTA MENGHAMBAT EKSODUNYA SISWA KE KOTA MADIUN

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Perubahan kurikulum dari 1994 menjadi Kurikulum Berbasis Kompetensi tahun 2004 menunjukkan perubahan yang esensial. Perubahan itu salah satunya diakibatkan kurang berhasilnya pendidikan masa lalu. Mutu pendidikan kita rendah, karena mengabaikan : Moral, Akhlak, Budi Pekerti dan Olah Raga serta Life Skill.
Pemerintah sekarang nampaknya betul – betul akan melaksanakan perubahan dengan rencana memasukkan materi kehidupan bebas KKN, yang akan diintegrasikan ke pelajaran Budi Pekerti atau pelajaran lain. Pembentukan watak yang anti korupsi harus dimulai sedini mungkin, sehingga anak betul sadar bahwa akibat korupsi bisa menghancurkan kehidupan negara.
Dari kenyataan banyaknya anak yang ingin sekolah di kota dikarenakan : ingin menikmato Kota Madiun, untuk melanjutkan sekolah di Madiun tidak mengalami kesulitan, bagi yang mampu mereka ingin ke sekolah yang pavorit, dan ke kota Madiun tidak memerlukan biaya karena masih bisa dijangkau dengan bersepeda. Hal ini yang menyebabkan semakin berkurangnya jumlah siswa baru di SMP 2 Takeran.
Dengan kondisi yang demikian kami segenap warga SMP 2 Takeran berusaha dengan segala kekuatan untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada SMP 2 Takeran.
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan dari latar belakang masalah yang ada, maka penulis mengambil beberapa rumusan maslah :
1. Bagaiman kegiatan keagamaan di SMP 2 Takeran yang bernuansa Podok
pesantren.
2. Bagaiman perilakau siswa SMP 2 Takeran
3. Bagaiman pengaruh kegiatam pondok pesantren di sekolah terhadap perilaku sosial siswa SMP 2 Takeran.
C. TUJUAN
1 Untuk mengetahui sejauh mana program kegiatan SMP 2 Takeran yangbernuansa Pondok Pesantren.
2. Untuk mengetahui perilaku anak SMP 2 Takeran
3. Untuk mengetahui pengaruh kegiatan SMP 2 Takeran yng bernuansa Pondok Pesantren terhadap perilaku siswa SMP 2 Takeran.
D. Manfaat Penelitian
1. Secara teoritis
Dari hasil penelitian ini bisa memperkaya khazanah keilmuan dan memberikan alternatif kepada para apakah ada hubungan atara kegiatan pondok pesantren dengan perilaku siswa di smp 2 Takeran Magetan.
2. Secara Praktis.
a. Untuk meningkatkan keprofesionalan penulis karena selain mengkaji kepustakaan juga terjun langsung melakukan penelitian.
b. Meningkatkan kepercayaan kepada masyarakat sekitar bahwa kegiatan keagamaan di SMP2 Takeran tidak kalah dengan kegiatan di MTSN.
c. Memberikan alternatif kegiatan keagamaan di sekolah untuk program peningkatan nilai keagamaan pada warga sekolah.
E. Penegasan Istilah
Untuk mempermudah dalam memahami judul dalam penelitian ini penulis perlu sekali mempertegas istilah yang ada, yaitu :
1. Program Pondok Pesantren
Adapun program kegiatan SMP 2 Takeran yang bernuansa Pondok Pesantren yang penulis maksud adalah semua program kegiatan yang ada kaitannya dengan Agama Islam (kegiatan Pondok Pesantren) yang diselenggarakan oleh sekolah.
2. Perilaku berarti segala aktivitas, penampilan dan perbuatan individu dalam hubungannya dengan lingkungan.6
Adapun perilaku siswa yang penulis maksud adalah segala tingkah laku atau kegiatan anak (siswa) di SMP 2 Takeran Magetan yang berhubungan dengan sesama manusia dan peraturan di sekolah yang didasari oleh nilai-nilai ajaran Agama Islam.
F. Hipotesa Penelitian
Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang secara teoritis paling mungkin atau paling tinggi tingkat kebenarannya. Penulis mempunyai anggapan bahwa kegiatan sekolah yang bernuansa pondok pesantren, merupakan kegiatan yang sangat penting untuk mendidika anak (siswa) agar beraklak mulia, taat pada orang tua dan aturan sekolah, sopan santun, bertutur kata yang baik, menjalin keja sama dengan sesama teman dan warga sekolah dengan ukhuwah islamiah.
Dari uraian tersebut di atas hipotesis penelitian ini terbagi dua :
Hipotesis nol (Ho) : Tidak ada pengaruh yang signifikan
antara kegiatan pondok pesantren dengan
perilaku siswa di SMP 2 Takeran Magetan
Hipotesis Altenatif (Ha): Ada pengaruh yang signifikan antara
kegiatan pondok pesantren dengan perilaku
siswa di SMP 2 Takeran Magetan
G. Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMP 2 Takeran yang datanya dari pengumpulan studi kepustakaan dan research lapangan serta implementasi program
1. Penentuan Populasi dan Sampel
a. Populasi
Populasi adalah seluruh individu yang dimaksud yang dimaksud untuk diselidiki.8. Adapun yang menjadi subyek penelitian adalah seluruh siswa SMP 2 Takeran – Magetan. Berdasarkan data yang ada jumlah murid seluruhnya adalah 442 anak.
b. Sampel
Mengingat semua siswa akan melaksanakan program dalam penelitian ini maka sampel dalam penelitian ini adalah juga semua siswa yang ada di SMP Negeri 2 Takeran

BAB II
PERMASALAHAN DAN CARA PEMECAHANNYA
A. MASALAH
Dari kenyataan yang ada bahwa pengajaran Pendidikan Agama di SD dan SMP bahkan di SMA kurang berhasil. Dari segi membaca Alquran banyak anak lulusan SD yang belum bisa menguasainya, bahkan SMP dan SMApun juga ada yang belum bisa membaca.
Ada tiga faktor yang harus segera mendapat perhatian yaitu faktor manusia, sarana dan program atau kurikulum yang ada.
Sumber daya manusia baik siswa maupun guru serta kepala sekolah harus bersama - sama untuk melaksanakan / mengkondisikan sekolah menjadi pendidikan bernuasnsa pondok pesantren.
B. PEMECAHAN MASALAH
1. Sarana
Untuk mewujudkan sekolah itu juga berfungsi sebagai pondok, perlu ada mushola/masjid atau ruangan khusus yang bisa kita gunakan untuk sembahyang bersama, kegiatan yang dilanjutkan kultum baik oleh guru/ustad maupun anak atau santrinya
2. Guru
Setiap akan dimulainya pelajaran guru harus memberikan kultum ( kuliah tujuh menit ). Tidak harus memakai sumber Al Qur’an atau hadist, namun dari kehidupan sehari – hari kita bisa tularkan ke anak sehingga bisa membuat anak menjadi anak yang sholeh dan sholehah.
Pastikan predikat bahwa “Guru adalah Ustad”.
Dengan demikian peran guru sekarang tidak hanya sebagai fasilitator, namun masih dibebani sebagai profesi Ustad. Sebagi ustad tentunya akan mewarnai pola tingkah laku yang diemban untuk membentuk budi pekerti anak, sehingga sekolah memposisikan sebagai pondok, sedangkan guru jadi ustad dan muridpun berperan sebagai santri.
Bagaimana implementasinya ?. guru tidak kemana-mana, tetapi berada dimana-mana. Untuk mempercepat tujuan membentuk manusia bermoral bagus, berakhlak mulia dan berbudi pekerti luhur, bisa kita integrasikan di setiap pelajaran, namun juga bisa menjadi satu paket mata pelajaran, kita perlu belajar ke pondok pesantren untuk melihat secara langsung bagaiman aspek kognitif serta ketrampilan juga sikap/afektif mereka relatif berhasil.
Guru sebagai ustad dituntut harus bisa memberikan nasehat/kultum/kulim (kuliah lima menit) di awal pelajaran. Kalau semua guru bertindak demikian, ranah afektif secara umum akan mudah dan cepat tercapai. Kultum/kulim bisa sebagai pemanasan yang tidak memakan waktu lama harus ada, namun dampaknya dikelak dikemudian hari generasi itu akan tidak membuat masalah dan bahkan akan memecahkan masalah. Tidak seperti sekarang ini yang cenderung membuat masalah, karena kurangnya perhatian dan pekerjaan, sambil mencari jati diri yang kurang pasti.
Berikan contoh seperti : kalau mau pergi harus pamit dan cium tangan sebelum berangkat, cuci tangan sebelum makan, berdoa sebelum mulai belajar, dsb, dsb, sehingga tidak akan kekurangan materi khotbah. Sedangkan alquran dan hadits sebagai rujukan kulim/kultum memang perlu untuk memantapkan ilmu yang kita berikan. Ada hadis mengatakan “sampaikan walaupun hanya satu ayat”
3. Anak
Anak adalah tumpuhan masa depan bangsa. Kalau kita mempersiapkan sedini mungkin kita orbitkan menjadi anak yang sholeh dan sholehan akan menjadi generasi yang siap memimpin negaranya sendiri dan siap bersaing dengan negara lain
Kondisikan “Siswa ya Santri”
C. Faktor Dominan Menciptakan Suasana Sekolah Bernuansa Pondok
Untuk mengkondisikan suasana yang bernuansa pondok perlu waktu untuk mensosialisasikannya. Sosialisai di kelas sangat membantu mempercepat tujuan yang kita inginkan selain di dalam upacara tiap hari senin.
1. Budaya Jabat Tangan
Jabat tangan atau dua tangan saling berjabatan, agaknya sudah menjadi bahasa universal, yang melambangkan adanya komunikasi batin antara pemilik tangan yang satu dengan pemilik tangan yang lain. Kalau ada orang ketemu dan ingin menjalin komunikasi, jabat tanganlah yang menjadi lambang bertemunya dua hati. Meskipun keduanya tidak saling mengerti bahasa masing-masing, karena ada Ligua franca yang bisa menjembatani. Komunikasi dua hati saling mengandung ucapan, “ Perkenalkanlah aku yang siap menjadi sahabatnu “ ( Jawa Pos, Minggu, 7 Nopember 2004 hal. 5 ).
Budaya jabat tangan antara siswa atau santri jugu guru menjadikan warna kehidupan keluarga besar SMP 2 Takeran. Sebelum masuk kelas dan akan pulang diwajibkan anak untuk berjabat tangan dengan ustad / ustadhahnya sambil cium tangan. Makna dalam jabat tangan, betapa kaya perspektif, dimensi dan kedalaman yang akan berkembang dalam diri seseorang, asalkan dilakukan dengan kejernihan fitrah. Berbeda kalau jabat tangan hanya dilakukan dengan basa – basi, ditandai dengan bibir saling tersenyum tetapi hati saling mencibir, tidak akan menjamin berhembusnya angin perdamaian, kasih sayang antara orang tua dengan anak dan rasa saling bersalah karena berangkat dari kedangkalan rokhani yang hampa makna.
Diharapkan dengan saling jabat tangan, akan timbul rasa kekeluargaan yang erat, sehingga bagaikan yang satu sakit akan terasa semua di masyarakat SMP 2 Takeran.
2. Budaya Mengucap Salam
Salam ( asalamu “alaikum … ) yang terlontar setiap ada pertemuan dua sejoli atau lebih akan menumbuh kembangkan rasa persaudaraan dan kekeluargaan yang erat, sehingga akan menimbulkan perasaan damai diantara insan yang berjumpa.
3. Budaya Berdoa dan Membaca Surat Pendek Sebelum Pelajaran
Dimulai.
Sebelum pelajaran dimulai di awal pelajaran diwajibkan untuk berdoa dan dilanjutkan membaca surat – surat pendek Al Qur’an dari juz Amma.
Diharapkan setelah lulus sekolah, anak hafal 38 surat yang ada di Zus Amma.
4. Budaya Membaca.
Ketika diturunkan wahyu Tuhan untuk pertama kalinya, yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW, Jibril berkata “Iqro” ( bacalah ). Ma Aqro ? ( tetapi apa yang harus dibaca ? ) tanya Nabi … pertanyaan itu tidak dijawab, karena Allah menghendaki agar beliau dan umatnya membaca apa saja, selama bacaan tersebut “ Bismi Rabikka “ dalam arti bermanfaat untuk kemanusiaan “, perintah untuk membaca adalah langsung diturunkan oleh Tuhan. Membaca adalah awal mulanya suatu ilmu pengetahuan, tehnologi dan seni dan keberhasilan manusia. Budaya membaca sebelum pelajaran dimulai dan pada waktu istirahat menjadikan icon SMP 2 Takeran. Dengan kebiasaan tersebut akhirnya anak menjadi gemar membaca.
Bagi anak yang belum bisa membaca Alquran disediakan waktu khusus untuk memberikan bimbingan sampai anak lancar membaca.
5. Disiplin dan Bersih
Sekolah kami mengutamakan kebersihan. Dengan moto 3B yaitu Bersih Diri, Bersih Ruangan dan Bersih Lingkungan. Untuk menjadikan anak nyaman dan betah di sekolah, kebersihan harus dijaga bersama. Motto kami “Sekolahku adalah Rumahku ya Sorgaku”
Disiplin juga merupakan keharusan untuk mensukseskan semua tujuan dengan lancar. Harapannya “Disiplin tanpa Diawasi, Kerja Keras tanpa Disuruh”
6. Budaya Bertanya
Malu bertanya sesat di jalan. Mayoritas siswa kita malas untuk mengemukakan pendapat, karena juga diawali takut dan malas bertanya. Budaya bertanya harus segera digalakkan, sehingga anak gemar mengungkapkan pendapat sesuai dengan metode / cara mereka masing –masing.
Di kelas seorang guru harus memberikan kesempatan anak untuk bertanya. Pada awalnya siswa sulit untuk bertanya, dengan kebebasan dan kewajiban bertanya setiap ada tatap muka, diharapkan anak timbul inisiatif untuk gemar bertanya.
7. Sopan Santun
Sopan santun perlu dibudi dayakan, sehingga membentuk pribadi yang santun dalam tutur kata dan sopan dalam tingka laku sesuai dengan norma yang berlaku dalam masyarakat.
“Implementasinya pada semua mata pelajaran terutama pada pendidikan Agama, PMP, BK, Bahasa Indonesia, dan pada mata pelajaran budi pekerti.
8. Budaya Tidak Ngerpek/Jujur
Kejujuran adalah perbuatan mulia yang perlu ditumbuh kembangkan pada setiap generasi muda yang akan menggantikan kita di masa yang akan datang. Sedini mungkin anak harus dikondisikan untuk berbuat jujur, perbuatan ngerpek di dunia pendidikan merupakan awal biang keroknya kejahatan.
Budaya malu bertanya saat menjalani ulangan akan menjadikan warna untuk mendidik anak jujur dan mandiri.
9. Kataman
Dalam mempertebal rasa keimanan dan keteqwaan warga sekolah terutama peserta didik minimal sekali setiap tahun mengadakan kataman yang disponsori oleh OSIS dan para relawan yang memang sudah ditunjuk oleh masing-masing seksi keagamaan.
10. Budaya Infak dan Zakat
Dalam meningkatkan rasa kepedulian terhadap lingkungan dan rasa impati terhadap orang lain yang mengalami serba kekurangan, warga sekolah sadar akan pentingnya memberikan sebagian rezekinya terhadap orang lain sehingga dapat mempertebal iman dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Sentuhan nurani baik di dalam kelas maupun siraman rokhani yang setiap hari bersentuhan dengan anak dan warga sekolah dapat meningkatkan pendapatan infak yang sangat tajam.
Penggunakan zakat dan infak : (1) untuk membantu para peserta didik yang mengalami kesulitan dalam pembiayaan sekolah, (2) untuk memberikan penghargaan (reward) terhadap anak yang memiliki prestasi membanggakan, (3) membangun dan melengkapi sarana ibadah, (4) membantu sarana sekolah yang sangat perlu.
10. Siraman Rokhani.
Dengan kemanjuan teknologi yang cepat, bisa berdampak positif juga negatif. Ponsel bisa memudahkan komunikasi namun bisa juga untuk bolos dengan anak sekolah lain.
Dengan sepeda motor anak bisa saja ke tempat hiburan dan tempat lain untuk kumpul bersama dengan anak dari sekolah lain, guna melepaskan kepenatan, hura-hura, minuman keras kadang sampai malak/memaksa orang lain untuk dimintai uang dsb.
Sekolah mengantisipasi dengan maraknya kenakalan remaja, berusaha untuk mengetuk hati dengan mengadakan siraman rokhani atau “Tombo Ati” sebulan dua kali. Pendekatan jiwa dengan sentuhan hati diharapkan anak bisa mengendalikan diri sendiri.
11. Kultum dan Sholat Dhuhur berjamaah
Setiap akhir pelajaran sebelum pulang anak diwajibkan untuk sholat dhuhur berjamaah dan diisi kuliah tujuh menit oleh anak secara bergiliran dari perwakilan tiap kelas.
12. Sholat Jumat
Untuk meningkatkan keimanan anak diwajibkan mengikuti sholat jumat berjamaah. Sebelum sholat dimulai bersama-sama membaca Surat Yasin kadang kala juga diselingi hapalan surat yang ada di Buku Zuz Amma’
13. Sholat Dhuha
sholat dhuha adalah sholat sunah pada waktu dhuha (sekitar jam 7 pagi sampai sekitar jam 11 siang) yang dianjurkan untuk dilakukan setiap muslim, agar sukses usahanya. Sholat dhuha minimal dua rakaat dan sebanyak-banyaknya dua belas rakaat. Sabda Rasulullah Saw : “Barang siapa mau mengerjakan sholah dhuha dua belas rakaat maka Allah membangunkan untuknya gedung di surga dari emas” (HR. AT-Tirmidzi).
14. Istighatsah.
Dalam menghadapi Ujian Akhir Nasional (UAN) sering melakukannya baik bersama dengan orang tua maupun para siswa.
15. Pondok Ramadan.
Pondok ramadan merupakan suatu kegiatan rutin yang dilakukan untuk menambah ketakwaan para siswa terhadap ajaran Islam, sehingga diharapkan mampu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
16. Mading Khusus Nuansa Islami.
Pengembangan nuansa Islami tidak hanya menyentuh pada perilaku dan sentuhan jiwa namun juga dituntut untuk mengekpresikan kebolehannya dalam berkarya seni yang dituangkan dalam bentuk : lukisan, kaligrapi, puisi, cerpen yang bernuansa Islami.
17. Hadrah.
Peyaluran talenta anak bisa juga diujudkan dalam bentuk kreasi seni musik Terbang atau hadrah yang setiap hari Sabtu mereka berlatih mengekpresikannya.
18. Sholat Id.
Setahun sekali mengadakan sholat Id dan dilanjutkan dengan penyembelihan hewan kurban.
19. Peringatan Hari Besar Agama.
Yang biasa dilakukan adalah Maulud Nabi, Isra Mikraj, dan Tahun Baru Islam, peringatan tersebut biasanya diisi dengan berbagai lomba keagamaan dan pengajian.
Program tersebut dengan bersamaan dilaksanakan pada hari sabtu pagi
yang merupakan hari peningkatan dan penelusuran bakat, demi masa
depan anak didik. Selain hari sabtu juga dilaksanaka sesuai dengan situasi
dan kondisinya.

ANALISA TENTANG SEKOLAH BERNUANSA PONDOK PESANTREN DAPAT MENGHAMBAT EKSODUSNYA SISWA BARU
KE MTSN DAN KE KOTA MADIUN
Ketika penulis datang untuk menggantikan jabatan kepala sekolah dari Bapak Sudaryono kondisi siswanya semakin merosot. Dari kelas III berjumlah 212 anak (5 kelas), sedangkan kelas II 142 anak (4 kelas), serta kelas I berjumah 129 dengan (4 kelas). Dengan kondisi demikian maka utnuk menarik kembali kepercayaan yang telah hilang SMP 2 Takeran mengembangkan sekolah bernuansa Pontren (Pondok Pesantren).
Pendidikan agama merupakan benteng untuk mempersiapkan generasi penerus dapat menggantikan generasi tua dengan penuh tanggung jawab serta tahan terhadap segala perubahan global yang semakin cepat. Dalam mempersiapkan anak didik agar mampu berkiprah di amsyarakat dengan cerdas, cakap, berperilaku santun, bijak dan berpengetahuan serta berteknologi tinggi, maka para siswa SMP Negeri 2 Takeran Magetan digembleng bagaikan mereka di pondok pesantren. Dengan pendidikan umum yang mempunyai kelebihan dibidang agama atau istilahnya SEMPIT (SMP Islam Terpadu) di SMP 2 Takeran akan memberikan nuansa Islami yang kuat.
Kehususan dalam pembelajaran pendidikan agama di SMP Negeri 2 Takeran akan berdampak pada tingkat kepercayaan masyarakat sekitar untuk menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut. Mengingat Kecamatan Takeran merupakan salah satu kecamatan dari Kabupaten Maagetan yang berbasis Islami maka SMP Negeri 2 Takeran mengkondisikan dirinya “Sekolah ya Pondok, Guru ya Ustad dan Ustadah serta Murid ya Santriwan dan santriwati”.
Dengan banyaknya kegiatan di bidang Agama Islam yang memang dari seluruh siswanya sementara ini semuanya memeluk Agama Islam, maka program kami perlu sekali memperbanyak dan mengkondidikan nuansa islami.
Nampaknya dari anak sendiri sangat antusias mengikuti program yang telah dicanangkan dan disosialisasikan bersama.
Mengingat masih banyaknya anak disekitar sekolah yang belajar di Kota Madiun, maka semakin termotivasi lagi untuk meningkatkan kegiatan yang tidak hanya berfokus pada agama. Semua bidang kegiatan baik akademik maupun olah raga dan seni, SMP Negeri 2 Takeran dengan penuh percaya diri mengembangkan Lima Program Unggulannya (1. pondok pesantern, 2). Kelas Akademik yang terdiri dari matematika, bahasa Inggris, biologi, fisika dan computera), 3).pusat olah raga dan seni, 4) Teknologi Global. 5) Kisar (kelompok Karya Ilmiah dan Sastra Remaja). akan bisa menghambat laju eksodusnaya anak untuk belajar di MTSN dan masuk ke Kota Madiun.
Dengan usaha SMPIT (Sekolah Menengah Pertama Ilsam Terpadu) dapat menambah jumlah siswa baru yang sangat menggembirakan, yaitu mendapat tambahan 49 siswa baru.
Dengan semakin banyaknya calon siswa baru yang masuk di SMP Negeri 2 Takeran berarti semakin dipercaya lagi oleh masyarakat sekitar untuk menyekolahkan anaknya di SMP Negeri 2 Takeran.

BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Sumber daya manusia yang bermental Arab dan bertehnologi Jerman adalah harapan semua insan manusia.
Mudah – mudahan dengan sekolah yang bernuansa pondok di SMP 2 Takeran dapat menghasilkan :
• Output yang bermoral dan beraklak mulia, serta mandiri yang siap menghadapi tantangan jaman
• Menghambat laju eksodusnya calon siswa baru ke Kota Madiun
• Meningkatkan kepercayaan anak untuk belajar di SMP 2 Takeran
• Mengembalikan partisipasi masyarakat yang semakin berkurang
• Membangun sekolah sehingga kwalitas pendidiknnya bisa dihandalkan
• Memberikan pilihan untuk calon siswa baru tidak masuk ke MTS
• Memberikan solusi yang saat ini pendidikan kita mengabaikan aspek : moral, akhlak, budi pekerti serta seni dan olah raga, juga life skill.
Dengan adanya program pontren diharapkan kerawanan SMP 2 Takeran yang letaknya di pinggiran kota dapat teratasi.
Sangat mengharapkan dengan perubahan kurikulum dari 1994 menjadi kurikulum 2004 (KBK), bisa menjadikan generasi yang mandiri dan berbudaya serta berakhlak mulia.

B. Saran
Keterbatasan seseorang sangatlah wajar,sehingga ide atau gagasan ini masih banyak kekurangan, sehingga mengharap para pembaca yang budiman untuk sudi memberikan kritik dan saran demi kesempurnaan gagasan yang jauh dari sempurna ini.
C. Harapan
Substansi pendidikan kita mengharap dengan sangat bahwa masa depan bangsa kita akan dipimpin oleh generasi yang berbudi pekerti luhur, berakhlak mulia, berpengetahuan luas dan berteknologi tinggi. Sekolah sebagai tempat pendidikan para calon generasi penerus harus bisa mengembangkan parameter Emotional Quation (EQ), tidak hanya parameter intelligene quation (IQ) dalam mengukur keberhasilan belajar anak. Sesuai denga pendapat Goleman (1998) bahwa temuan para ahli psikhologi menunjukkan kontribusi IQ terhadap keberhasilan seseorang hanya 20 %, sedangkan 80 % yang lain ditentukan oleh faktor-faktor dalam EQ.
Dengan demikian altrnatif pembelajaran di sekolah diharapkan semua bisa mempertimbangkan aspek Emtional Quation.
Sebagai tingkat satuan pendidikan SMP Neger 2 Takeran bisa menyeimbangkan antara Intelegence Quation (IQ), Emotional Quation (EQ) dan Emotional Spiritual Quation (ESQ) dengan program Sekolah bernuansa Pondok pesantren.
Dengan program ini diharapkan sekolah lain untuk mengembangkan kegiatan keagamaan ditempatkan pada porsi yang agak lebih, sehingga antara IQ dan EQ bisa berjalan seimbang.

SEKOLAH BERNUANSA PONDOK
DALAM RANGKA MENINGKATKAN
PERILAKU ISLAMI SERTA MENGHAMBAT EKSODUNYA SISWA
KE KOTA MADIUN
Oleh
Drs. Edy Siswanto
SMP NEGERI 2 TAKERAN
2006

Guru Idolaku

Seorang guru mempunyai peranan yang sangat penting bagi para murid-muridnya. Karena seorang murid akan menjadi senang dan mudah untuk menerima pelajaran jika didukung oleh seorang guru yang menyenangkan atau guru yang ideal. Selain itu juga dengan adanya seorang guru yang menyenangkan kelas akan terasa nyaman dan tentu komunikasi antar siswa dan guru pun akan berjalan baik. Sehingga murid dapat menerima pelajaran dengan sersan (Serius Tapi Santai).
Dari pentingnya seorang guru seperti diatas maka saya dapat menyimpulkan bahwa guru ideal adalah seorang guru yang dapat mencairkan suasana baik di dalam atau di luar kelas dan guru yang dapat mengajar dengan maksimal dan juga dapat meningkatkan prestasi belajar murid muridnya.
Bagi seorang guru ideal tentu akan memiliki ciri-ciri yang tidak dimiliki oleh semua guru yang antara lain:
Memiliki kepribadian yang baik, modal utama untuk menjadi guru faforit tentu dengan memiliki kepribadian yang baik. Karena dengan kepribadian yang baik akan dapat mencerminkan sikap dan prilaku saat beliau mengajar, dan bahkan prilaku beliau dalam kehidupan sehari-hari tentunya semua kegiatan yang beliau lakukan dimanapun akan dilakukan dengan penuh rasa gembira dan penuh senyuman.
Memiliki sikap adil dan bijaksana kepada setiap murid. Adil”

( Kamus besar bahasa indonesia)
Seorang siswa tentu akan merasa senang jika guru mereka bersikap adil dan bijaksana dalam mengajar dan memberi nilai pada mereka. Tentu dengan demikian para murid pun tidak akan merasa dianak tirikan atau dibeda-bedakan antara satu dengan yang lain.
Memiliki metode belajar yang menyenangkan. Belajar tidak harus selalu ada di ruang kelas dengan suasana tegang dan terlalu serius, karena dengan kegiatan belajar mengajar seperti itu dengan terus menerus atau tanpa ada variasi, tentu murid-murid akan cepat merasa bosan. Tapi dengan adanya metode belajar yang bervariasi tidak akan cepat merasa jenuh atau bosan. Maka dari itu tentulah seorang guru ideal pasti akan memiliki metode belajar yang berbeda atau dengan penuh variasi. Dengan contoh antara lain :1.Seorang guru akan mengajak pada murid-muridnya untuk melakukan KBM di luar kelas dengan tujuan agar para murid dapat mengadakan pengamatan secara langsung di alam terbuka.
2.Seorang guru akan mengadakan permainan sebagai metode belajar atau di sebut bermain sambil belajar. Dll
Bisa menjadi guru, orang tua atau bahkan sebagai teman. Selain kedua orang tua kita di rumah, guru juga memiliki peranan sebagai orang tua kita di sekolah. Yang dimaksud sebagai teman disini bukanlah guru yang bersifat kekanak-kanakan atau bahkan murid yang bersifat tidak sopan pada guru. Tetapi sebagai teman disini memiliki pengertian sikap seorang guru yang dapat mengerti curahan hati muridnya,baik dalam hal pelajaran atau bukan dalam hal pelajaran.

About This Blog

About This Blog

  © Blogger templates 'Sunshine' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP